| September, 2010 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | ||
Reintroduksi merupakan istilah yang sangat umum untuk menjelaskan upaya penanaman kembali suatu jenis tumbuhan ke habitat alami. Dalam pengertian yang lebih terperinci Reintroduksi dibedakan ke dalam beberapa istilah, yaitu:
- Reintroduksi (reintroduction)
- Translokasi (translocation)
- Penguatan (reinforcement /supplementation/enhancement)
- Restorasi (restoration)
- Revegetasi atau reklamasi
- Reinstatement
Reintroduksi adalah pelepasan dan pengelolaaan suatu spesies tumbuhan atau binatang ke suatu area diamana spesies itu dulu pernah ada, tetapi sekarang telah punah atau dipercaya telah punah dari area tersebut.
Penanaman suatu jenis tumbuhan (langka) yang berasal dari suatu daerah ke daerah lain yang masih termasuk dalam kawasan distribusi jenis tumbuhan tersebut, baik ke daerah yang telah diketahui sebagai tempat hidup tumbuhan tersebut atau ke daerah yang baru sama sekali.
Merupakan upaya peningkatan populasi (ukuran maupun keragaman) suatu jenis tumbuhan (langka) pada suatu daerah dengan penanaman individu-individu baru.
Merupakan upaya mengembalikan status ekologi suatu lahan atau kawasan ke bentuk semula melalui penanaman kembali jenis-jenis tumbuhan yang diketahui pernah hidup di tempat tersebut dan meminimalkan jenis-jenis pendatang.
Merupakan upaya perbaikan kondisi lahan atau kawasan terdegradasi melalui penanaman jenis-jenis tumbuhan (tidak memperhatikan asal usul tumbuhan yang ditanam)
Tujuan reintroduksi adalah untuk memulikan keberadaan suatu spesies yang telah punah secara global atau lokal di habitat alaminya (di dalam area geografiknya). Sasaran reintroduksi adalah :
- Meningkatkan sintasan
- Memperbaiki/memelihara keanekaragaman hayati dan proses-proses alami
- Membangun spesies kunci
- Memberi manfaat ekonomi jangka panjang (lokal/nasional)
- Meningkatkan kesadaran konservasi
Justifikasi reintroduksi (reintroduction justification), alasan-alasan kegiatan reintroduksi termasuk di dalamnya adalah:
- Konservasi in-situ merupakan pertimbangan utama dan reintroduksi merupakan suatu bentuk kompromi dan sebagai jembatan antara konservasi ex-situ dan in-situ (konservasi terpadu).
- Pengelolaan habitat sering memerlukan cara-cara yang praktis tetapi berbasis ilmiah (misalnya restorasi) dan reintroduksi merupakan bagian penting restorasi habitat/vegetasi, khususnya bila spesies yang direintroduksi merupakan elemen penting habitat tersebut.
- Ekologi spesies langka menjelaskan kondisi-kondisi lingkungan dimana spesies itu berada, mengapa lingkungan tersebut penting, mengapa suatu spesies langka bisa sintas (survive) atau mengapa suatu spesies tersebut bisa merosot populasinya.
- Reintroduksi dapat membantu stabilitas dan rehabilitasi habitat, karena studi spesies untuk program reintroduksi memfokuskan pada semua faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana spesies tersebut berinteraksi dengan habitatnya.
- Reintroduksi merupakan proses yang positif dan mengganti sesuatu yang pernah ada. Walaupun reintroduksi spesies ke habitat alaminya bukan merupakan program yang murah, tetapi dalam jangka panjang akan lebih murah bila dibandingkan dengan pemeliharaan spesies secara ex-situ.
Reproduksi dan sintasan spesies di habitat alaminya merupakan nilai yang penting dalam memelihara kualitas lingkungan. Tahapan Reintroduksi (reintroduction stage):
- Persiapan (pre-activities)
- Membentuk tim
- Melakukan studi biologi dan ekologi spesies
- Menimba pengalaman dari program-program reintroduksi sebelumnya
- Menentukan lokasi/area reintroduksi
- Mengevaluasi area reintroduksi
- Menjamin ketersediaan stok yang akan direintroduksi
- Menentukan indikator kesuksesan program
- Mengkaji aspek sosio-ekonomik dan legal
- Pelepasan/penanaman (released stages)
- Memperoleh persetujuan dari otoritas kawasan
- Melibatkan prapihak terkait
- Mengumpulkan dana yang cukup
- Menentukan cara pengangkutan (mengangkut stok dan meminimalkan stress)
- Menentukan strategi penanaman (aklimatisasi, jumlah, komposisi, teknik penanaman, waktu penanaman, mencatat data-data ilmiah, memastikan bebas patogen/penyakit)
- Melakukan pendidikan konservasi untuk memperoleh dukungan masyarakat lokal dalam jangka panjang
- Melakukan public relations
- Merancang program monitoring
- Melakukan proteksi (misalnya misalnya dengan pemagaran bila diperlukan)
- Pasca pelepasan
- Melakukan monitoring kesehatan dan sintasan individu (direct tagging, telemetry atau pelibatan informasi)
- Melakukan re-inforcement bila perlu
- Melakukan studi demografi, ekologi, dan biologi dari individu-individu yang dilepas (termasuk proses adaptasi, mortalitas, ancaman, dan hama)
- Melakukan revisi program (termasuk penghentian bila perlu)
- Melindungi habitat (penjagaan, aspek legal)
- Melakukan kegiatan public relations dan pendidikan
- Melakukan evaluasi teknik reintroduksi
- Melakukan publiksi
|
Pengunjung hari ini : 63 Total pengunjung : 27376 Hits hari ini : 574 Total Hits : 311493 Pengunjung Online: 4
|








Pengunjung hari ini : 63
Total pengunjung : 27376
Pengunjung Online: 4

