| September, 2010 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | ||
Kebun Raya perlu mengembangkan penelitian-penelitian konservasi agar dapat melaksanakan tugas dan peran konservasinya secara efektif. Penelitian konservasi berbasis ekologi merupakan salah satu kelompok penelitian yang sangat penting bagi institusi ini. Melalui kegiatan penelitian konservasi berbasis ekologi, Kebun Raya dapat berperan lebih nyata dalam melestarikan dan mendayagunakan flora Indonesia. Dengan terbatasnya jumlah peneliti dan sumberdaya (termasuk peralatan penelitian dan pendanaan), studi dan penelitian perlu difokuskan kepada koleksi-koleksi utama yang telah dimiliki.
Selain itu, studi dan penelitian konservasi tumbuhan di Kebun Raya harus dirancang sebagai bagian integral dari upaya konservasi yang terpadu dan lebih luas (integrated conservation) dan tidak berhenti pada tataran preservasi saja. Kebun Raya harus tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ex situ yang pasif (misal sebagai captivity/refuge area), tetapi juga harus dapat berfungsi sebagai media penghubung yang efektif antara upaya konservasi ex situ dengan konservasi in situ. Dengan demikian Kebun Raya akan memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam konservasi dan sekaligus mempunyai identitas yang jelas.
Dalam rangka membangun kompetensi dan otoritas keilmiahan (mengingat dimensi konservasi yang sangat luas), Kebun Raya harus mengidentifikasi dan mengembangkan program-program konservasi aktif yang spesifik, dan menguasai berbagai teknik, metode dan perkembangan ilmu dan informasi konservasi terkini dari berbagai sumber dan dari berbagai belahan bumi. Selain itu, studi dan penelitian harus diarahkan kepada spesies-spesies tumbuhan Indonesia (to think globally but to act locally), khususnya yang terancam kepunahan (spesies-spesies fokal, endemik, atau flagships).
Laboratorium Kultur Jaringan dan Pembibitan Anggrek Kebun Raya Bogor
ProfilMelalui program "Eksplorasi Flora Nusantara" sebagai langkah awal penyelamatan kekayaan sumber daya hayati Indonesia, berbagai specimen tumbuhan telah terkumpul di Kebun Raya Bogor. Upaya lanjut dari program ini adalah program perbanyakan yang menentukan bertahan tidaknya satu tumbuhan dalam operasi penyelamatan tersebut.
Laboratorium Kultur Jaringan dan Pembibitan anggrek adalah salah satu pusat kegiatan perbanyakan tumbuhan yang dimiliki Kebun Raya Bogor. Dalam Lembaga konservasi ex-situ peran unit ini sangat penting untuk menjawab tantangan yang kini sudah mendesak. Hasil-hasil dari unit ini diharapkan dapat digunakan untuk kepentingan dalam arti luas yaitu pemenuhan kebutuhan masyarakat sebagai usaha pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan (Renstra Kebun Raya, 2005).
OrganisasiSecara struktur, laboratorium Kultur jaringan dan pembibitan anggrek berada dibawah sub bidang pemeliharaan koleksi. Dalam kegiatan sehari-hari, Laboratorium kultur jaringan dan pembibitan anggrek bertugas melakukan perbanyakan terutama untuk jenis-jenis anggrek hasil eksplorasi dari lapangan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan juga untuk memperbanyak jenis tanaman lain, jika perbanyakan secara konvensional sukar dilakukan.
Kapasitas Laboratorium, Pembibitan dan SDMLaboratorium memiliki fasilitas standar untuk melakukan pekerjaan kultur in-vitro. Kapasitas laboratorium adalah 20.000 botol/tahun yang terdiri dari tahap semai hingga transplan terakhir. Sumber daya manusia yang ada kini terdiri dari 3 peneliti dan 3 teknisi, cukup untuk mengelola koleksi yang ada dengan kemampuan yang memadai untuk tugas yang dibebankan. Disamping pemeliharaan koleksi, kegiatan riset juga dilakukan disini.
Kegiatan UtamaDari perkiraan 6000 jenis anggrek alam kekayaan Nusantara, tidak kurang dari 500 jenis anggrek kini sudah berada dalam koleksi Kebun Raya Bogor. Koleksi anggrek ini sebagian besar berasal dari hasil eksplorasi Kebun Raya ke berbagai daerah di Indonesia. Saat ini perbanyakan secara generatif merupakan cara yang diprioritaskan. Namun demikian program hibridisasi (penyilangan) untuk mendapatkan jenis baru tidak menjadi prioritas utama.
Sejak tahun 1997, tidak kurang dari 100 jenis anggrek (20 % dari jumlah seluruh koleksi) telah disemai di laboratorium. Namun demikian, tidak semua jenis anggrek yang sudah disemai tersebut berhasil mencapai masa dewasa, beberapa jenis anggrek langka masih memerlukan kajian lebih jauh untuk sampai pada fase tumbuh. Sangat tidak mudah untuk bisa mengakomodasi semua jenis anggrek alam yang masing-masing memiliki preferensi tertentu. Sehingga kegiatan perbanyakan kini hanya dilakukan untuk jenis-jenis yang memiliki nilai khusus.
Anggrek bernilai komersial selalu menjadi prioritas karena prospeknya yang menjanjikan. Sedangkan anggrek bernilai langka biasanya menarik untuk diteliti karena kelangkaan sekaligus keunikannya. Termasuk diantaranya anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum) yang kini sudah sukar ditemukan di habitat aslinya. Kepunahan habitatnya terjadi dalam waktu tidak terlalu lama lagi, karena habitat yang ada kini sudah terbelah oleh jalan raya. Pada tahun 2003, Tim eksplorasi Kebun Raya berhasil menemukan kembali sisa-sisa populasi anggrek tersebut di pinggir Jalan Raya Siborong-borong Desa Baniara, Kabupaten Toba Samosir - Sumatera Utara. Walaupun biji anggrek ini sudah berhasil dibawa ke Kebun Raya dan disemaikan di laboratorium, namun tantangan ke depan masih sangat besar. Tidak mudah untuk mengadaptasi anggrek yang terbiasa hidup di lingkungan spesifik ini. Sebelum sempat dipelajari habitatnya secara detil, lokasi tumbuh anggrek tersebut sudah tergusur. Program reintroduksi (pengembalian ke habitat aslinya) pun menjadi tidak mungkin dilakukan. Untuk itu diperlukan rencana yang sangat matang untuk menentukan masa depan anggrek ini agar bertahan hidup dalam kondisi budidaya. Hal yang sama terjadi pada Didimoplexis pallens, sejenis anggrek yang hanya menampakan diri ke permukaan tanah pada waktu dan tempat tertentu saja. Beruntung sekelompok kecil populasi jenis ini masih bisa didapati tumbuh secara alami di kawasan tertentu di Kebun Raya Bogor sehingga mudah dimonitor. Paraphalaenopsis serpentilingua dan P. Laycockii adalah 2 jenis anggrek endemik asal Kalimantan, berhasil dibudidayakan setelah penantian selama lebih dari 3 tahun. Awalnya sangat tidak mudah untuk mendapatkan induk anggrek langka bernilai komersial ini. Pencarian induk dilakukan baik di habitatnya maupun di nursery-nursery yang ada di Jawa maupun Kalimantan. Baru tahun 2006 ini anakan anggrek tersebut berhasil didapatkan dan kini dalam perencanaan akan dikembalikan ke habitatnya semula.
Vanda dearei yang dikoleksi dari habitatnya pada bulan Juni 2002 telah berhasil dibibitkan di Kebun Raya Bogor. Tanaman ini dibawa pulang ke habitat asalnya Taman Nasional Kayan Mentarang - Kalimantan Timur setelah beberapa orang lokal didampingi staf BKSDA, WWF dan PAI-Tarakan mengikuti pembekalan berupa training pembibitan anggrek di Kebun Raya Bogor pada Bulan Desember 2005.
|
Visitor for Today : 248 Total Visitor : 27867 Hits for Today : 3343 Total Hits : 318036 Online Users: 9 |








Visitor for Today : 248
Total Visitor : 27867
Online Users: 9 
