Featured Product

SPEKTAKULER – MASKOT KEBUN RAYA BOGOR KEMBALI BERBUNGA

8 Januari 2010, bunga langka koleksi Kebun Raya Bogor kembali berbunga. Bunga bangkai ini merupakan hasil ekplorasi tim Sumatera Selatan & Jambi yang dipimpin oleh Sudjati, pada pertengahan bulan Oktober 2009. Cikal bakal dari tumbuhan ini berupa umbi. Umbi ditanam pada tanggal 2 November 2009, dalam waktu yang relatif singkat muncul kuncup bunga. Amorphophallus titanum Becc., nama latin dari bunga bangkai yang kini menjadi trade mark Kebun Raya Bogor juga menjadi kebanggaan masyarakat kota Bogor, di daerah asalnya biasa disebut kerubut. Umbi yang berasal dari Sungai Air Payang, Desa Bantunan, Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan merupakan anggota suku Araceae (talas-talasan). Berbeda dengan bunga bangkai Rafflesia yang hanya bisa tumbuh pada inangnya yaitu tumbuhan Tetrasigma lanceolarium (Roxb.) Planch. Bunga Rafflesia sedang diusahakan agar bisa tumbuh secara ex-situ (tumbuh diluar habitatnya) di Kebun Raya Bogor.

Amorphophallus titanum tidak seperti tumbuhan lain pada umumnya ada proses sebelum berbunga (fase generatif) yaitu proses dimana hanya ada batang dan daun saja (fase vegetatif), kemudian diikuti oleh fase dorman (tidur, umbi mengumpulkan energi) kemudian muncul kuncup. Proses kuncup sampai mekar biasanya memakan waktu ± 2 bulan, bunga mekar sempurna hanya 1 minggu kemudian lambat laun menjadi layu. Bunga bangkai ini biasa mekar sempurna pada malam hari antara jam 8 – 10.

Amorphophallus titanum adalah tumbuhan primitif karena baik bunga betina maupun bunga jantannya telanjang (terbuka). Bunga betina dan bunga jantan terdapat dalam satu tongkol, dimana susunannya adalah bunga betina yang berjumlah puluhan sampai ratusan buah berada pada bagian dasarnya, sedangkan bunga jantan juga berjumlah puluhan sampai ratusan buah tersusun diatas bunga betina. Walaupun berada dalam satu tongkol akan tetapi bunga jantan tak dapat membuahi bunga betina dikarenakan bunga betina masak terlebih dahulu. Setelah masa reseptif bunga betina usai, barulah bunga jantannya matang. Oleh karena itu dibutuhkan 2 tanaman yang berbunga hampir bersamaan untuk menghasilkan buah.

Bila bunga betina sudah masak maka phallus akan mengeluarkan asap, ini terjadi oleh karena perbedaan suhu panas dari bunga dan suhu dingin diluar. Demikian pula dengan bunga jantan, bunga jantan yang masak mengeluarkan pollen. Antiknya bunga betina yang masak akan mengeluarkan lendir serta bau yang tak sedap (bau bangkai tikus), sehingga mengundang lalat ataupun serangga lainnya untuk hinggap dan terjebak di dalam seludang (mahkotanya). Selang beberapa saat seludang membuka sedikit sehingga lalat ataupun serangga dapat keluar, tubuhnya akan menyentuh pollen karena pada saat itu giliran bunga jantan yang matang dan terbang keluar serta hinggap kembali pada bunga lainnya, terjadilah proses pembuahan.

Setelah bunga layu maka Amorphophallus titanum menjadi dorman lamanya ± 3 - 12 bulan, kemudian proses vegetatif dimulai dengan keluarnya batang dan daun ± 1 - 2 tahun, dorman kembali, setelah beberapa tahun muncul kembali kuncup bunga. Masa dorman dari bunga ke bunga bisa mencapai 3 atau 4 tahun lamanya bahkan lebih, tergantung dari situasi lingkungan yang mendukungnya. Amorphophallus titanum dihabitat aslinya umumnya tumbuh pada lereng-lereng dekat sungai.

Nampak pada gambar umbi Amorphophallus titanum dengan beratnya 30 kg yang menjelma menjadi kuncup berumur 15 hari dengan tinggi 1,5 m. Di Indonesia Amorphophallus ada 25 jenis, 18 jenis endemik (hanya tumbuh dan terdapat pada areal tertentu dan tidak ditemukan ditempat lainnya) Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Amorphophallus titanum Becc. dari data yang dapt ditelusuri pertama ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1920. (Ika Sartika – Pranata Humas PKT Kebun Raya Bogor-LIPI)


100 Spesies Terancam Punah

Seratus spesies harus segera dikonservasi, mengingat keberadaanya mulai terancam dan dikhawatirkan dalam beberapa waktu kedepan akan mengalami kepunahan dari habitat aslinya. Hal itu ditetapkan dalam workshop yang bertajuk "Penetapan Spesies Prioritas Untuk Konservasi Indonesia Terancam Kepunahan" yang diselenggarakan di Gedung Konservasi PKT KRB Senin (2/6)

Workshop yang pertama diselenggarakan di Indonesia ini membahas empat taksa tumbuhan yaitu Orchidaceae atau tanaman Anggrek, Arecaceae atau Palm-palman, Nepenthaceae atau Kantong Semar serta Cyateaceae atau Paku-pakuan. Ada 191 spesies target yang jadi prioritas untuk segera dikonservasi, yaitu 53 spesies Nepenthaceae, 35 spesies Cyateaceae, 44 spesies Orchidaceae dan sisanya dari taksa Arecaceae. Alasan pemilihan keempat taksa ini karena mempunyai anggota yang banyak, bermanfaat dan banyak dieksploitasi masyarakat, sehingga dibutuhkan proses reintroduksi, konservasi dan domestikasi serta kebijakan pemerintah secepat mungkin guna penyelamatan dari kepunahan.

Ketua penyelenggara Rosniati A.Risna mengatakan penilaian terhadap spesies target dilakukan dalam panel pakar dengan dua cara yakni, individual scoring dimana para pakar diminta menilai dari spesies target yang sesuai dengan kepakarannya kemudian hasilnya berupa consensus dari total skor rata-rata untuk spesies yang sama. Sedangkan compromise scoring dilakukan dalam kelompok untuk menilai satu jenis spesies, hasilnya dimasukan dalam softwere yang nanti akan ditampilkan dalam tiga kategori, yakni Kategori A dengan skor diatas 50 menunjukan spesies yang memerlukan aksi konservasi segera, Kategori B dengan skor antara 42-50 menunjukan spesies yang aksi konservasinya bisa ditunda dan serta Kategori C dengan skor dibawah 42 menunjukan spesies tidak memerlukan aksi konservasi secara aktif.

Kepala PKT KRB Mustaid Siregar mengatakan penilaian oleh para pakar dilakukan guna meningkatkan akurasi, komprehensif dan reliabilitas hasil penilaian yang dijadikan pedoman dalam menghadapi ketidakpastian saat dilakukan penskoran. Para pakar yang dipilih merupakan ahli-ahli yang berkompeten dibidangnya yang mengetahui seluk beluk yang dikajinya.

Pakar Nepenthaceae M. Mansyur mengatakan dari hasil penilaian dua spesies dinyatakan deficient atau data kurang, sehingga dikeluarkan dari daftar spesies target. Yaitu Nepenthaceae glabrata dari Sulawesi dan Nepenthaceae boschiana dari Kalimantan. Adapun spesies yang masuk dalam kategori A dengan skor tertinggi yaitu Nepenthaceae adnata dari Sumatera dan Nepenthaceae campanulata dari Kalimantan. Mansyur menambahakan kriteria penilaian didasarkan pada keunikan taksonomi, spesies habitat, eksplorasi laju kehilangan habitat dan perlindungan ex-situ.

Untuk jenis Orchidaceae atau tanaman anggrek semuanya dinyatakan memenuhi kriteria kategori A hal ini didasarkan pada hasil individual scoring dengan nilai rata-rata 52-68 dan compromise scoring dengan nilai 56-58. Sehingga untuk seluruh spesies tanaman anggrek diharuskan dilakukan proses konservasi segera serta membuat regulasi untuk melindungi habitatnya dari kepunahan.

Pada taksa Cyateaceae dari 35 spesies yang dinilai, 8 spesies masuk pada kategori A, 24 kategori B dan sisanya masuk pada kategori yang tidak memerlukan aksi konservasi segera. Pakar Cyateaceae Titin Ng. Praptosuwiryo mengatakan untuk saat ini spesies paku-pakuan belum bisa menjadi prioritas konservasi, namun hanya sebatas reassessment di lapangan saja.

Adapun taksa Arecaceae dari 60 spesies yang dinilai, 10 dikeluarkan dari daftar target dan diganti dengan tujuh spesies baru, hal ini karena ada kekeliruan dalam penentuan spesies target setelah pengecekan lebih lanjut. Dari hasil penilaian para pakar, 14 spesies dinyatakan harus segera dilakukan konservasi, 21 spesies proses konservasinya bisa ditunda dan 16 spesies tidak memerlukan konservasi secara aktif. Pakar Arecaceae Didik Widyatmoko menilai Spesies Arenga distinca dan Arenga longipes harus segera dikonservasi karena keberadaan dihabitatnya sudah terancam punah.

Workshop ini menetapkan 100 spesies masuk kategori A, artinya harus segera dilakukan konservasi, 60 spesies pada kategori B berarti aksi konservasinya bisa ditunda dan 19 spesies dinyatakan tidak memerlukan aksi konservasi secara aktif atau digolongkan pada kategori C sedangkan 12 spesies dinyatakan deficient.Ayi Doni(KRB)


Anggrek Macan Berkhasiat Menyembuhkan Sariawan dan Kuku Bernanah

Gramatophyllum Scriptum BL atau yang lebih dikenal dengan Anggrek Macan diduga memiliki kegunaan sebagai obat untuk menyembuhkan sariawan dan kuku bernanah. Sejak 16 April 2009 jenis Anggrek asli Biak – Papua ini mekar dengan dua tangkai bunga yang memiliki jumlah bunga 32 dan 37 kuntum.

Dengan spesifikasi khas yang dimiliki seperti warnanya yang mencolok, jumlah bunga yang banyak serta masa mekar yang cukup lama, kiranya Anggrek tersebut juga cocok untuk tanaman hias dalam pot atau ditempel pada pohon di pekarangan. Laboratorium Kultur Jaringan Anggrek KRB saat ini memiliki ratusan individu Gramatophyllum Scriptum BL yang berumur 6 tahun yang berasal dari nomor koleksi B200009221 yang disemai melalui kultur biji dan dapat diperbanyak dengan jalan memisahkan anakan.

Gramatophyllum Scriptum BL adalah Anggrek Epipit yang memiliki umbi semu dengan ukuran 14 – 20 cm dan jumlah daun 2 – 3 helai dengan ukuran 60 x 5 cm. Tangkai bunga keluar dari pangkal umbi semu dengan panjang 100 – 150 cm. Jumlah bunga dapat mencapai 100 kuntum, masa mekar 2 – 6 minggu, masa berbunga sekitar September – April. Sepal dan Petal berwarna hijau muda agak kuning, totol-totol coklat dengan diameter 9 – 10 cm, buah berukuran 9 x 4 cm, dengan masa matang buah ± 5 – 7 bulan. Secara umum anggrek ini tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Kep. Solomon.(Yuniar/Kebun Raya Bogor)


Tentang Kebun Raya Bogor

Sejarah Kebun Raya Bogor

Sejarah

Pada tahun 1811, ketika perang Napoleon di eropa, Indonesia pada waktu itu bernama Hindia Belanda atau Nederlandsch Indie.

Tugas Pokok dan Fungsi

Tugas Pokok

Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian

Visi dan Misi

Visi Kebun Raya Bogor

Menjadi salah satu Kebun Raya terbaik di dunia dalam bidang konservasi dan penelitian tumbuhan tropika, pendidikan lingkungan dan pariwisata.

Koleksi Kebun Raya

Koleksi Kebun Raya Indonesia

Koleksi April 2008

Adapun jumlah koleksi tumbuhan Kebun Raya Indonesia sampai dengan April 2008 adalah sebagai berikut :

Kelompok Tumbuhan

Kelompok Tumbuhan Kebun Raya Bogor

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor sebagai lembaga konservasi ex-situ mengelompokan koleksi tumbuhannya sebagai berikut :

Penelitian Kebun Raya Bogor

Sekilas Penelitian Kebun Raya Bogor

Kebun Raya perlu mengembangkan penelitian-penelitian konservasi agar dapat melaksanakan tugas dan peran konservasinya secara efektif. Penelitian konservasi berbasis ekologi merupakan salah satu kelompok penelitian yang sangat penting bagi institusi ini.

Kelompok Penelitian Kebun Raya Bogor

  • Kelompok Penelitian Ekologi
  • Kelompok Penelitian Hortikultura
  • Kelompok Penelitian Taksonomi

Fasilitas Penelitian Kebun Raya Bogor

Fasilitas penunjang penelitian diantaranya :

  • Laboratorium Treub.
  • Laboratorium Kultur Jaringan.

Jasa dan Informasi

Info Umum

Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2008, harga tiket masuk Kebun Raya Bogor termasuk Museum Zoology, disesuaikan menjadi :

  • Pengunjung Rp 9.500,-/orang
  • Parkir Mobil Roda 4 Rp 15.000
  • Parkir Motor Roda 2 Rp 3.000

An ApplePerpustakaan

Pusat konservasi tumbuhan Kebun Raya Bogor-LIPI merupakan suatu instansi pemerintah yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan penelitian. Perpustakaan Kebun Raya Bogor didirikan oleh Hasskarl pada tahun 1842, kemudian bernama perpustakaan Departemen Bibliotheca Bogoriensis.

Pemotretan

Kebun Raya Bogor telah lama dimamfaatkan masyarakat luas sebagai obyek wisata, dan dibanyak negara kebun raya dimamfaatkans sebagai salah satu tujuan wisata yang sangat diminati karena menyajikan panorama arsitektur yang bernuansa alami. Sehubungan dengan hal tersebut Kebun Raya Bogor menyediakan fasilitas pemotretan bagi pengunjung.


An AppleWisma Tamu

Penginapan bergaya rumah belanda, terdiri dari :

  • 4 Kamar dengan tempat tidur ukuran ganda.
  • 2 Kamar masing-masing dengan 5 tempat tidur single.
  • Kamar paviliun dengan 2 tempat tidur single.


An Apple

Gedung Konservasi

Gedung Konservasi terdiri dari 3 lantai, di lantai 3 terdapat ruang pertemuan dengan kapasitas 100 tempat duduk(Ruang A) dan 2 ruang dengan kapasitas 25 tempat duduk(Ruang B dan Ruang C) dilengkapi dengan sound system, meja dan proyektor yang sesuai dengan kegiatan seminar, workshop atau rapat.


Pendidikan

Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan pemahaman serta apresiasi masyarakat terhadap tumbuhan dan lingkungan, dilakukan serangkaian kegiatan pendidikan lingkungan. Beberapa program yang diluncurkan untuk menunjang pendidikan lingkungan.